Tampilkan posting dengan label Cerita Panas. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Cerita Panas. Tampilkan semua posting
Cerita Panas Terbaru 2016 : Cinta Di Musim Hujan

Cerita Panas Terbaru 2016 : Cinta Di Musim Hujan

Cerita Panas Terbaru 2016 : Cinta Di Musim Hujan.

Cerita Panas Terbaru 2016 : Cinta Di Musim Hujan
Cerita Panas Terbaru 2016 : Cinta Di Musim Hujan
Hujan masih saja turun dengan lebatnya dan telah berlangsung selama 2 hari. Segala aktifitas jadi kacau berantakan. Tidak tahu harus berbuat apa. Jalan juga tampak lengang karena orang-orang lebih senang memilih tinggal di rumah. Begitu juga denganku, yang meski banyak rencana tapi semua jadi berantakan gara-gara hujan. Oh ya, aku bekerja secara serabutan, yang penting bisa menghasilkan dan halal.
Saat itu aku tengah memandang keluar melalui jendela. Memandang langit yang tampak menghitam, sedikitpun tak ada tanda-tanda bahwa hujan akan berhenti. Tiba-tiba sebuah taxi berhenti tepat di depan rumah. Sesaat kemudian seorang perempuan yang belum begitu jelas wajahnya dengan menenteng koper kecil bergegas turun dan berusaha membuka pintu pagar rumahku yang tertutup rapat namun tidak ku gembok. Usaha membuka pintu pagar berhasil dilakukan, namun keadaan itu membuatnya basah kuyup. Tanpa menutup kembali pintu pagar ia berlari-lari memasuki halaman rumah terus mengetuk pintu.
Aku yang sudah menyaksikan ulahnya sedari tadi langsung membuka pintu dan.. Aku terkesima. Sesosok wujud wanita paripurna berdiri di depanku dengan sedikit menggigil. Wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Wanita yang.. Berumur kira-kira 23 atau 24 tahun yang luar biasa, seperti dalam mimpi, cantik sekali. Rambutnya lebat panjang bergerai indah. Alis mata yang tebal dan bibir tipis yang memancarkan pesona. Dia juga seperti terheran melihatku.
“Maaf.. Mbak cari siapa?” tanyaku.
“Oh.” dia terlihat gugup, “Maaf Mas. Bukankah disini rumahnya Mas Dudy?”
“Dudy? Dudy Margono?” tanyaku
“Iyya,” jawabnya sambil menepis butir-butir air yang melekat di tubuhnya.
“Wah, sebulan yang lalu Mas Dudy memang masih ngontrak disini, tapi sejak pindah ke Balikpapan aku yang meneruskan kontrakannya,” jawabku.
Jawaban yang membuatnya terkejut dan terlihat amat kecewa.
“Oh, maaf. Mari, masuk dulu Mbak,” tawarku setelah menyadari bahwa wanita itu masih di depan pintu.
“Makasih,” jawabnya terus melangkah masuk.
Akupun mempersilahkannya duduk di sofa lalu minta ijin sebentar mau kebelakang untuk mengambilkan handuk karena menyaksikan tubuh dan pakaiannya basah kuyup. Setelah mengambil handuk dalam lemari (aku memang menyimpan beberapa handuk sebagai persediaan kalau-kalau ada teman menginap) dan membawanya keluar. Kulihat dia agak gemetar menahan dingin meski baju yang dikenakannya cukup tebal, tapi hujan yang amat lebat rupanya tidak mau kompromi dan lagi tampaknya gadis ini kelelahan, kemungkinan baru saja melakukan perjalanan jauh. Segera kusodorkan handuk yang disambut dengan senyum, terus melap badannya yang masih berbungkus pakaian.
“Mbak siapa?” tanyaku
“Oh, maaf perkenalkan, aku Vita,” ucapnya menyodorkan tangan.
“Bari,” sahutku menggenggam tangannya yang dingin.
“Saya teman dekatnya Mas Dudy. Saya tidak tahu kalau dia sudah tidak disini. Sungguh, saya tadinya mau bikin surprise dengan datang tiba-tiba. Nggak tahunya.. Wah, gimana ini?” Dia terlihat panik.
“Emangnya Mbak Vita dari mana?”
“Dari Malang, Mas,”
“Gila, sejauh itu?” Tanyaku bagai tak percaya.
Dia hanya mengangguk. Aku jadi terdiam dan turut merasa sedih. Namun akal sehatku segera pulih terutama setelah melihat dia semakin kedinginan.
“Kalau nggak keberatan, silahkan Mbak Vita mengganti pakaiannya yang basah itu di kamar, nanti kita bicara lagi,” ujarku sambil menunjuk kamar tamu. Iapun tersenyum (manis sekali) kemudian beranjak menuju kamar yang saya tunjukkan.
Cerita Ngentot 2016 | Akupun menunggu dengan gelisah. Aku dengan Dudy memang sahabat dekat, tapi tidak pernah tahu kalau dia punya teman dekat yang begini cantik. Aku juga tahu kalau Dudy itu petualang cinta. Banyak sekali gadis-gadis yang jadi korbannya mengingat wajahnya yang memang tampan, terlalu tampan malah hingga mendekati wajah perempuan, terlalu klimis.
Sebulan yang lalu oleh kantornya ia mendapat promosi menjadi kepala cabang di Balikpapan dan sejak itu ia menyuruhku menempati rumah ini yang telah ia kontrak selama 5 tahun dan baru berjalan 2 tahun sehingga aku bagai dapat durian runtuh karena ketika ia menyuruhku pindah ke rumah ini terutama karena selama ini aku hanya mampu kost di satu kamar pada satu tempat dibilangan Slipi.
Dan gadis cantik yang kini ada di kamar tamu itu, apa termasuk salah satu dari korban rayuan gombal Dudy? Aku tidak berani berpikir yang aneh-aneh tentang gadis itu. Aku positif tahuninking aja. Nggak tega aku memikirkan hal-hal yang ngeres. Dia terlalu cantik dan lembut dimataku. Agak lama Vita di kamar, mungkin sekalian mandi (kamar tamu mempunyai fasilitas kamar mandi).
Kira-kira 30 menit kemudian pintu kamar terkuak memunculkan sosok Vita yang fresh terutama dengan kombinasi busananya yang pas. Saat itu ia mengenakan T. Shirt putih dengan rok midi warna cream. Setelah mandi kecantikan Vita kian tegas. Wajahnya yang aristokrat dengan tinggi sekitar 164 serta polesan lipstik tipis dibibirnya membuatku sejenak seperti bengong, nggak bisa berucap sepataHPun.
“Mas Bari.. Kok seperti orang bengong,” Ucap Vita menyadarkanku dari keterpanaan.
“Oh. Maaf. Mari, monggo. Silahkan,” aku masih grogi. Vita hanya senyum melihat ulahku.
“Ada apa sih, Mas? Kok seperti orang bingung?” tanyanya lagi.
“Ya.. Aku memang lagi bengong, bukan bingung,”
“Lho, kenapa?” tanya Vita sambil duduk di sofa mengambil posisi di depanku.
Aku akhirnya bisa menguasai diri.
“Habis, setelah mandi Mbak Vita ternyata cantik sekali,” jawabku mulai percaya diri.
“Ah, Mas Bari bisa saja. Tapi terima kasih deh atas pujiannya”
Kami akhirnya terlibat dalam pembicaraan yang mengasyikkan. Dia bercerita banyak. Mengenai hubungannya dengan Dudy terutama janjinya bahwa setelah Vita menyelesaikan kuliahnya mereka akan segera menikah. Itulah sebabnya ia segera ke Jakarta utnuk mengabarkan dan membicarakan rencana perkawinan mereka karena Vita baru saja lulus dan berhak menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Tapi Vita jadi sangat kecewa karena Dudy ternyata sudah pindah tanpa memberikan kabar dan yang jadi masalah karena di Jakarta ini Vita tidak punya kenalan apalagi keluarga. Aku berusaha menenangkan dan memberinya semangat terutama karena Dudy memang sahabatku dan kuutarakan juga bahwa sesungguhnya rumah ini secara resmi masih dimiliki Dudy sebagai pengontrak, aku hanya disuruh menempati agar tidak kosong.
Saat malam tiba, hujan belum juga mau kompromii, sehingga aku tidak bisa mengajak Vita keluar untuk makan malam, terpaksa kita buat menu ala kadarnya. Beruntung karena di kulkas masih ada sisa ikan dan daging, cukup untuk diolah menjadi santapan yang enak. Kita semakin akrab terutama setelah secara bersama kita mengolah bahan mentah di dapur. Akupun tak segan-segan mencandai Vita membuatnya sering tertawa terpingkal-pingkal bahkan sesekali mencubit halus pinggangku.
Usai makan malam, kami melanjutkan pembicaraan sambil nonton TV. Duduknyapun sudah tidak berhadap-hadapan lagi tapi sudah berdampingan. Aroma parfum yang dikenakan amat sejuk dan lembut menciptakan nuansa yang romantis. Aku mencoba menggeser dudukku untuk merapat sedikit. Dia hanya melirik sambil senyum.
“Mulai berani ya, Mas?” tegurnya membuatku kembali menggeser tubuhku untuk menjauh.
“Ya, sudah. Nggak usah di geser menjauh lagi. sudah ketahuan, kok,” ucapnya menarik lenganku mendekat sehingga tubuhku akhirnya teraih mendekat memepeti tubuhnya.

Koleksi Cerita Ngentot 2016

Darahku tiba-tiba bergolak. Hatiku diliputi perasaan yang penuh bunga, apalagi ketika tiba-tiba ia meletakkan tangan kanannya di atas pahaku. Akupun secara refleks melingkarkan lengan kiriku di bahunya. Kami sama-sama diam membisu, namun aku yakin kalau hati kami diliputi perasaan yang sama, ingin lebih dari itu. Pikiran kami tidak lagi terfokus pada TV meski mata tetap tertuju ke sana. Namun aku segera sadar bahwa pertunjukan harus dimulai dan untuk memulai inisiatif harus datang dariku karena tidak mungkin inisiatif itu datang dari gadis yang begini lembut.
Pelan-pelan kuelus rambutnya. Dia diam saja. Lalu kucium rambut yang panjang itu, harum. Diapun diam saja. Lalu rambut panjang itu kusibak dan kususupkan bibirku di lehernya, kukecup halus. Ia juga masih diam, tapi tangannya mencengkram pahaku. Aku kian berani kujilat leher, pas di belakang telinganya. Ia menggelinjang, menarik kepalanya, menoleh menatapku tajam. Aku juga menatapnya dan sejenak kemudian bibir kami saling bertaut. Kami berciuman panjang dan panas.
Aku menekan tubuhnya sehingga rebah telentang di sofa. Aku menindihnya. Tanganku merayap membelai dadanya yang masih tertutup busana. Tapi ia tiba-tiba menahan tanganku dan berusaha menatapku.
“Boleh?” tanyaku berbisik.
Agak lama ia menatapku dan akhirnya mengangguk sambil senyum. Akupun mulai meraba dadanya dengan halus sambil bibirku tak pernah henti melumat bibir tipisnya. Tanganku kian nakal mencoba berkelana dibalik T. Shirtnya dan meremas ke dua gunung kembarnya yang masih terbalut BH. Deru nafasnya terdengar memburu sementara burung dibalik celanaku kian liar dan membesar seperti mau berontak. Kurangkul tubuhnya, kurengkuh aroma tubuhnya yang harum dan tanganku kian merajalela, tanpa sepengetahuannya (mungkin) aku sudah berhasil melepas pengait BH nya sehingga dengan bebas tangan kananku membelai dan meremas buah dadanya yang keras sementara tangan kiriku masih tetap mendekapnya. Buah dadanya memang tidak terlalu besar, tapi ini ukuran yang paling pas buatku.
Kugesek-gesekkan pahaku ke pangkal pahanya yang secara spontan mulai sedikit terbuka. Kurasakan ada hawa panas di sana. Bibirku dengan rakusnya melalap bibir tipisnya. Aku enggan melepas pagutanku terutam karena bau mulutnya yang bagai bau mulut bayi, segar. Tapi ukuran sofa kurasakan amat mengganggu karena terlalu sempit sehingga mengurangi gerakan kami. Lalu kuhentikan pagutanku.
“Kita pindah, yuk,” tawarku
“Kemana?” tanyanya.
“Ke kamar,” jawabku.
“Mas..”
“Ya?”
Ia berusaha bangun dan aku berhenti menindihnya. Kami kemudian duduk. Ia menatap kedepan ke arah TV sementara aku memandangnya penuh tanya.
“Seharusnya kita nggak begini..” ia berhenti sejenak.
Aku diam menunggu tetap mencoba untuk mengontrol diri.
“Aku ini pacar sahabat, Mas Bari,” lanjutnya.
“Ya,” jawabku singkat.
Lalu kami sama-sama terdiam. Berbagai pikiran berkecamuk dikepala kami.
“Aku minta maaf, Vit,” ucapku tulus.
Dia menoleh memandangku dan. Tersenyum.
“Nggak papa. Aku juga yang salah terlanjur suka pada Mas Bari dan mungkin karena kecewa pada Mas Dudy,” jawabnya tenang.
Tangannya terulur mengusap pipiku.
“Kamu gagah, Mas,” pujinya,
“Ayo kita ke kamar,” pintanya.
“Vita nggak keberatan?” tanyaku bagai tak percaya.
“Kita bercumbu saja ya, Mas? Soalnya untuk yang satu itu aku belum pernah melakukan,” ujarnya polos.
“Tapi saling raba boleh, kan?”
“Ih, Mas Bari nakal,” ujarnya sambil mencubit pahaku.
Akupun segera meraih tubuhnya, mengajaknya berdiri. Lalu tubuh semampai itu kugendong. Tangannya melingkar di leherku. Sambil berjalan menuju kamarku bibirku tetap lekat di bibirnya. Setiba dalam kamar, pelan-pelan tubuh itu kuletakkan dipembaringan sambil terus memagutnya. Kami bergulingan di kasur. Tubuhnya terasa kian panas. Aku mencoba melepas kaosnya. BH yang tadinya sudah kucopot masih berada di balik bajunya. Ia membantu mencopot kaosnya sehingga tanpa susah payah aku berhasil menelanjangi bagian atas tubuhnya.
Darahku kian bergolak memandang tubuhnya yang bak pualam, kulit kuning langsat, bersih, halus tanpa ada sedikitpun cela, sempurna. Lalu tangany meraba seluruh bagian atas tubuhnya terutama ke dua gunung kembarnya yang padat dan keras pertanda birahinya juga sudah meninggi. Ketika aku berada di atas tubuhnya, secara halus kususupkan paha kananku ke selangkangannya dan dia merespon dengan membuka kedua pahanya sedikit sehingga ujung pahaku bebas melakukan aktifitas. Pinggulnya juga secara spontan ikut bergerak mengikuti irama gesekan pahaku.
Serangankupun mulai kutingkatkan. Sambil melingkarkan tangan kananku di lehernya, bibirku tetap mengulum bibirnya sambil lidahku berkelahi dengan lidahnya didalam rongga mulutnya. Tangan kiriku pelan-pelan bergerak menyingkap roknya dan secara halus mengelus pahanya, terus bergerak ke atas dan berhenti di pangkal pahanya, lalu menyentuh Cdnya. CD itu sudah basah, rupanya ia sungguh sudah birahi. Kulepas pagutanku. Mulutnya berdesah ketika tanganku berusaha menyusup kebalik Cdnya dan berhenti di bibir vaginanya.
Sungguh, bibir itu sudah sangat basah. Jari tengahku mengelus-elus bibir vaginanya. Ia semakin menggelinjang sambil membuka pahanya untuk memberikan jalan bagi jariku agar lebih leluasa bekerja disana. Tapi jariku masih merasa terganggu sehingga Cdnya segera kupelorotkan Ia mengangkat pantatnya agar aku mudah mencopot CD nya. Setelah itu pengait roknya kulepas, kutarik resluiting riknya dan kuturunkan rok itu dari pinggangnya, maka dihadapanku kin tergolek dalam nafas memburu sesosok tubuh wanita yang penuh pesona memandangku penuh birahi.
Ketika aku terpana melihat keindahan tubuhnya ia berusaha bangkit, tangannya meraih pinggangku lalu membuka baju kaor yang kukenakan. Setelah itu ia berusaha membuka ikat pinggangku mencopot celanaku sekalian celana dalamku sehingga akupun kini sudah telanjang, persis seperti dia. Matanya terbelalak menyaksikan burungku yang tegak mengacung, besar, panjang dan kaku.
“Wow. Besar sekali, Mas,” pekiknya meraih burungku. Di elus-elusnya.
“Pernah pegang punya Dudy, nggak?” tanyaku. Ia mendongak memandangku.
“Ih, Mas Bari jangan tanya gitu, dong. Itu kan sangat pribadi,” ucapnya protes.
“Sorry,” sahutku. Sambil mengelus buah dadanya.
“Di cium dong, sayang,” pintaku.
Iapun segera membungkuk dan mencium burungku. Betul-betul hanya dicium dengan hidungnya sesekali permukaan bibirnya menempel di kulit burungku. Tampaknya dia belum pernah melakukan oral sex.
“Di kulum dong, sayang,” bisikku.
“Di masukin mulut?” tanyanya seperti nggak percaya.
“Iyya.”
“Ah, aku belum pernah begini, Mas,” jawabnya polos.
“Coba aja. Enak, kok,” desakku.
Akhirnya dengan ragu-ragu ia memasukkan kepala burungku ke mulutnya. Lidahnya belum bermain, hanya mendorongnya maju mundur, bahkan sesekali burungku tersangkut giginya sehingga menimbulkan sedikit rasa sakit. Rupanya ia betul-betul belum ngerti, masih polos.
Setelah memaju mundurkan burungku di dalam mulutnya sekitar 10 menit, ia terlihat kelelahan. Iapun menghentikan gerakannya dan merebahkan diri telentang. Aku kemudian berjongkok, membuka pahanya, lalu kepalaku kususupkan kesana. Hidungku mencium vaginanya lalu bibirku menjilati bibir vaginanya. Ia terpekik sambil meremas kepalaku.
“Mas, jangan. Jorok,” Aku tidak peduli.
Lidahku kian gencar berputar di klitorisnya membuat pantatnya bergerak naik turun sambil mulutnya tak pernah henti berdesah. Bukan hanya lidahku yang berputar meliuk-liuk di seputar klitnya, dua jari tangankupun ikut menyusup memasuki liangnya, membuatnya terpekik-pekik kenikmatan. Hanya sebentar saja jari-jariku bermain disana ketika tiba-tiba saja tubuhnya mengejang. Pantatnya terangkat tinggi, bulu rmanya ikut berdiri. Rupanya ia telah orgasme.
“Ooohh.. Maass.” lenguhnya panjang.
Kedua tangannya merangkulku dengan ketat sementara burungku kian tegang. Aku hentikan aktifitasku. Kupandangin tubuhnya yang lemas. Ada senyum disana.
“Enak, sayang?” bisikku. Dia mengangguk.
“Apa Mas sudah keluar?” tanyanya tidak mengerti. Aku ketawa kecil.
“Belum. Lihat nih, masih kencang betul,” sahutku mengelus-elus vaginanya.
“Jadi gimana dong?” tanyanya.
“Aku masukin, ya?”
“Tapi aku belum pernah, Mas,”
“Saya tahu. Aku masukin kepalanya aja, tidak akan merusak selaput daramu.”
“Betul, Mas?” Aku mengangguk mengiyakan.

Cerita Panas Terbaru 2016 : Cinta Di Musim Hujan

Dalam hati aku memang telah berjanji tidak akan merusaknya kalau memang dia masih perawan.
“Iyya deh, Mas. Tapi pelan-pelan aja ya? Aku takut,” ucapnya pasrah.
Aku kemudian membungkuk, mencium bibirnya yang basar. Dengan sabar kuelus kedua gumpalan gunungnya, sesekali kuremas. Aku berusaha membangkitkan kembali gairahnya setelah ia mengalami orgasme. Tangankupun segera berkelana ke selangkangannya dan memainkan jari-jariku ke dalam liang vaginanya tapi tidak terlalu dalam. Vaginanya kembali basah kuyup. Birahinya muncul lagi dalam waktu singkat. Lalu tangannya kuraih kubimbing ke arah burungku. Begitu jarinya menyentuh burungku langsung di remas dan di kocok-kocoknya.
Setelah merasa bahwa birahinya telah bergolak akupun berjongkok, membuka lebar pahanya sehingga bibir vaginanya terbuka memperlihatkan klitoris dan liangnya yang berwarna kemerah-merahan. Burungkupun ku arahkan kesana. Kepalanya kugosok-gosokkan di permukaan vaginanya. Mulutnya mendesis-desis keenakan, lalu secara perlahan tapi pasti kutekan burungku masuk sarangnya. Ia terpekik kecil. Jari-jarinya erat mencengkram punggungku. Pantantnya terangkat sehingga burungku semakin masuk menyusup, belum semua karena aku taku akan merobek selaput darahnya.
Dengan posisi burungku separuh yang masuk aku membuat gerakan maju mundur. Hal ini membuatnya betul-betul menggelinjang keenakan sementara vaginanya semakin banjir rupanya ia lagi-lagi orgasme yang berkesinambungan tapi belum orgasme total. Aku kemudian menggulingkan tubuhku untuk merubah posisi sehingga ia kini berada di atas tubuhku menyebabkan aktifitas membuat gerakan dilakukan oleh Vita. Mulanya pelan-pelan, lalu ketika buah dadanya tepat di depan mulutku, maka gumpalan kenyal itupun ku kulum. Ia menggelinjang dan mempercepat gerakan pantatnya.
Tiba-tiba ia menekan pantatnya dengan kuat disertai pekik kesakitan untuk sesaat, maka seluruh batang kemaluanku amblas. Sakitnya memang tidak terlalu terasa karena vaginanya sudah banjir hanya terasa ketika selaput perawannya robek. Setelah itu tak ada lagi rasa sakit, yang ada hanyalah kenikmatan yang tiada tara.
“Mas.. Robek sudah Mas.. Ooohh.”
“Iyya sayang.. Maaf,”
“Bukan salah Mas. Aku yang nggak tahan,” celotehnya mempercepat gerakannya.
“Maass.. Aku mau keluar lagi.”
“Aku juga sayang.. Dicabut ya?” tanyaku.
“Jangan, biar aja. Sudah kepalang aduh maass.. Aku.. Kkkeeluaarr.”
“Aku juga sayaanng,” pekikku ketika air meniku menyemprot keluar bersamaan dengan puncak orgasmenya.
Luar biasa nikmatnya. Ia merebahkan tubuhnya yang berkeringat diatas tubuhku. Aku mendekapnya erat seakan tak mau melepas tubuhnya. Batang kemaluanku masih bersarang di dalam rongga vaginanya sementara di luar sana hujan mulai berhenti menyisakan rintik yang pelan.
“Maaf, ya sayang. Akhirnya aku telah merusakmu,” bisikku sambil bengecup lehernya.
“Nggak papa kok, Mas. Aku yang mau dan aku puas,”
“Bagaimana dengan Mas Dudy?” tanyaku.
“Peduli amat,” ungkapnya mengangkap tubuhnya duduk diatas selangkanganku karena kemaluan kami masih saling menempel.
“Jujur saja Mas. Aku sebenarnya kesini, selain untuk memperjelas hubungan kami juga untuk menyelidiki berita kalau ia selalu gonta-ganti cewek dan sering bercinta di rumah ini. Aku juga yakin kalau cintanya padaku hanya dimulut, terbukti ketika aku menolak ML dengannya, ia tidak pernah lagi mengontakku,” ujarnya ketus.
“Jadi..?”
“Jadi ya, itu. Aku nggak mau tahu lagi. Aku cuma mau pembuktian. Apa dia benar-benar mencintaiku atau hanya mau iseng,”
“Terus kita, gimana?” tanyaku.
“Terserah Mas. Bagiku, dari perkenalan singkat. Aku yakin Mas orang baik penyayang.”
“Kalau aku bilang aku mau jadi pacar Vita gimana?”
“Jangan tanya aku, Mas karena aku pasti mau. Tapi berpikir dulu yang matang.”
“Justru Vita yang saya minta berpikir matang. Aku saat ini masih kerja serabutan, tapi aku janji akan mencari kerja yang layak sesuai ijazahku.”
“Terus, Mas?” desaknya
“Aku ingin melamarmu. Aku tidak tahu, wanita yang seperti Vita yang selalu ada dalam anganku. Terutama karena aku yang telah mengambil perawanmu,” mendengar kalimatku itu ia lalu memelukku, menghujaniku dengan ciuman.
“Makasih, Mas.”
Cukup sampai disini dulu updetan cerita ngentot 2016 kali ini.

Sumber : fotodewasa7.com
Cerita Panas Ngentot Dipojok Sekolah Teman Masih Perawan

Cerita Panas Ngentot Dipojok Sekolah Teman Masih Perawan


Cerita Panas Ngentot Dipojok Sekolah Teman Masih Perawan.

Cerita Panas Ngentot Dipojok Sekolah Teman Masih Perawan
Memek Perawan Berdarah
Cerita Panas Ngentot Dipojok Sekolah Teman Masih Perawan – Sejak remaja aku sudah mengenal seks, bahkan pada masa masa sma aku sudah secara aktif berhubungan sex dengan berganti ganti pasangan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa si karen bisa di ‘Pake’.
Cerita Perawan – Ah aku tidak perduli. Toh, tak ada keluargaku di kota kembang ini. Tak ada sanak saudara yang kukenal. Predikat pecun sudah melekat pada diriku sejak bulan bulan pertama ku di kota ini. Umurku masih 17 tahun ketika itu.
Adalah geng si Aryo yang pertama kali mendekatiku, sejak aku bersekolah disana. Mereka duduk di kelas tiga saat itu. Kebiasaan mereka setiap sorenya jalan jalan seputar bandung untuk mencari ‘bayur’ (Sebutan untuk anak anak abg yang mau saja diajak bereksperimen)
Sore itu aku tengah menunggu angkot di dago, ketika Katana si Aryo berhenti. Aryo dan Hendri di dalam mobil. Mereka menyapaku dan bertanya mau kemana. Yang kujawab bahwa aku ingin pulang. Singkat cerita mereka menawarkan tumpangan untuku.
Ah tentu saja aku tidak keberatan. “Karen duduk di depan aja yah” Hendri berkata sambil membuka pintuk kiri, ia pun tidak turun dari kendaraan. Aku mengerti bahwa yang di maksud adalah duduk di pangkuan nya. “Soalnya di belakang berantakan tuh” Hendri meneruskan.
Memang di jok belakang berserakan buku buku, tas dan gitar milik Aryo. Aku mengangguk saja dan masuk ke dalam mobil duduk di pangkuan hendri. Ah sudah berbulan bulan aku merindukan sentuhan laki laki.
Sejak aku pindah dari pulau itu aku benar benar putus hubungan dengan Andre dan teman temannya. Hampir 5 bulan tak ada laki laki yang menyentuhku. Duduk di pangkuan Hendri saat itu membangkitkan birahiku, kubiarkan tangan nya memeluk erat perutku. Seperti tak terjadi apa apa kami tetap mengobrol normal, walau kurasakan penis nya di pantatku.
Kubiarkan semua perlakuan Hendri sambil aku terus mengobrol dengan Aryo yang pegang kemudi. Merasa aku tidak keberatan, Hendri semakin berani. Terang terangan rok seragamku di singkapnya, payudaraku di remas nya. Sementara Aryo hanya bisa menelan ludah melihat teman nya menggerayangi seluruh tubuhku.
Aku sendiri heran mengapa tidak ada rasa malu ketika satu persatu kancing kemejaku di buka. Ketika rok sma ku di singkap. Semua terjadi begitu saja.
Akhirnya kami memutuskan untuk “mampir” di kost Aryo. Bergantian mereka meniduriku. Satu menunggu diluar sementara yang lain bersamaku di kamar.
Sejak saat itu bisik bisik kudengar dari teman temanku yang lain bahwa kedua berandal ini tidak menganggap ini sebagai rahasia. Gosip pun menyebar. Hampir semua orang tau kalau aku bisa di ‘Pake’
Nguping
Uun: Hen, kata si Aryo lo udah make si Karen yah?
Hendri: Heheheheheh….
Uun: Beneran?
Hendri: Ho oh
Uun: Dari dulu gua udah nyangka tuh anak bayur
Hendri: Emang
Uun: Make, apa grepe grepe doang?
Hendri: Make, di kost gua. Si Aryo juga
Uun: Masa sih?
Hendri: Yaelah bener.
Uun: Perawan ga?
Hendri: Kaga, udah jebol! tapi masih enak
(Mereka berdua tertawa)
Uun: Gimana ceritanya lo bisa pake dia?
Hendri: Waktu itu gua liat dia lagi nunggu angkot, kita ajak aja, pake mobil Aryo. Lo tau kan si Aryo bangku belakangnya penuh buku buku.
Uun: Terus?
Hendri: Gua bilang aja ke dia duduk nya di depan aja
Uun: Terus?
Hendri: Doi langsung ok. Duduk di pangku gua.
Uun: Gila! terus?
Hendri: Yah, gua grepe grepe aja.
Uun: Dia nya diem aja?
Hendri: Ho oh, ngobrol terus aja ama si Aryo.
Uun: Lo grepe grepe dia nya diem aja?
Hendri: Diem, orang tangan gua, gua masukin ke dalem behanya aja dia diem aja.
Uun: Masa sih? Tangan lo masuk ke behanya? Itu di mobil?
Hendri: Iyah, Tanya aja Aryo,
Uun: Gila…
(Mereka berdua tertawa)
Uun: Kebayang sih, tuh anak duduk nya aja ngangkang mulu emang gatel kayanya, ama gua mau ga ya dia?
Hendri: test aja
Uun: Iyah tar gua coba deh. Jadi penasaran gua. Dia tinggal dimana sih? katanya kost ya?
Hendri: Iya kost deket Unpad
Sejak saat itu Uun gencar mendekati ku. Sering senyum kepadaku jika kami berpas pasan di koridor sekolah.
Aku benar benar tidak tahu lagi harus menaruh mukaku dimana. Cowok cowok sih menanggapi ini dengan enteng. Namun teman temanku yang cewek menganggap kotor diriku. Ah susah untuk tidak perduli pada usiaku yang masih terlalu muda. Ya aku malu. Aku mulai menutup diri dari pergaulan, seringkali saat istirahat aku duduk sendirian entah di koridor depan kelas atau di kantin.
Sampai suatu ketika, aku sedang duduk sendirian di pojokan kantin tiba tiba Aryo berbisik di telingaku “Karen, gue pengen banget nih” Aku terkejut bukan main, dia membungkuk di belakangku mukanya hanya beberapa senti saja dari pipiku.
Aku merasa wajahku merona merah. Aku diam saja sambil meminum minumanku. “Karen, tolongin gue dong, bener bener ga tahan nih” lanjutnya sambil terus berbisik. Entah mengapa aku terangsang hebat diperlakukan demikian. Tapi aku diam saja. Tanganku diraihnya. Setengah di tarik aku di bawanya ke gang sempit di belakang kantin itu.
Setengah lusin anak cowok kelas dua dan tiga sedang merokok disana. Gang ini memang menuju gudang sekolah yang memang tempat mereka diam diam merokok. Aku sendiri tidak pernah tau keberadaan gang ini. Aku menyembunyikan wajahku di belakang pundak Aryo ketika melewati gang sempit itu. Tanganku masih di gandeng Aryo. Suitan nakal dan godaan dari anak anak yang sedang merokok itu terdengar ketika aku setengah ‘Diseret’ melewati mereka.
Suitan suiatan dan sorakan kurang ajar masih terdengar sampai aku tiba di ujung gang yang buntu itu. Ternyata disana ada sebuah gudang tua. “Yo, kamu gila ya…?” Gua malu tau. Kataku. Namun Aryo tidak memperdulikan. Di peluknya tubuhku. Tangan nya langsung meremas payudaraku dengan kasar.
“Yo, ini disekolah” kataku menolak. Namun aku tidak berusaha lari dari pelukan nya. Bahkan tangan nya tetap kubiarkan meremas dadaku. Dia sudah berhasil melepas beberapa kancingku dan tangan nya sudah masuk kedalam behaku. Aku menikmati sentuhan nya sementara mulutku tetap berkata lain. Aryo pun semakin nekat.
Di dorongnya pundaku memaksaku berlutut. Ditekan nya kepalaku ke selangkangan nya. Berikutnya aku sudah memberikan oralku yang terbaik padanya. Tidak lama hanya beberapa menit. Sebelum bel istirahat berakhir kami sudah selesai. Maksudku Aryo. Dan kami kembali melewati gerombolan anak anak nakal itu lagi. Kali ini mereka memandang takjub tanpa komentar.
Aryo yang berjalan di depanku tersenyum senyum, sementara aku sekali lagi menyembunyikan wajahku di belakang pundaknya. Sejak hari itu predikat ‘Bispak’ (Bisa dipakai) melekat padaku. Semua orang tau. Semua orang menuding. Akupun tidak berani untuk meneruskan sekolah di sekolah itu.
Sejak kejadian di gang sempit itu, hari hari disekolah benar benar seperti neraka. Semua orang menudingku sambil berbisik bisik. Aryo seakan tidak perduli, setiap istirahat tiba aku di bawanya ke gang itu. Sebenarnya aku tidak berkeberatan melakukan oral kepadanya.
Hanya saja tudingan orang orang lain ini yang membuatku benar benar menderita. Aku tidak tahan lagi bersekolah disana. Aku sudah tidak punya muka. Akhirnya kuputuskan untuk kabur.
Tapi kemana? Aku tidak punya apa apa. Neneku di pulau tentu akan sedih.
Akhirnya kupak semua barang barangku. Kubohongi neneku, untuk segera mengirim uang. Akupun meninggalkan bandung menuju jakarta. Di umur yang begitu muda aku ga tau lagi mau kemana. Sesampai nya di gambir aku bagai orang yang putus harapan.
Berjam jam aku terduduk di sebuah kantin di stasiun gambir. Tanpa harus tahu mau kemana. Sampai kulihat seorang perempuan muda bergelayut pada seorang oom oom. Umur perempuan itu kutaksir masih dua puluhan. Aku tidak ragu sedikitpun bahwa perempuan itu pelacur. Dari mulai pakaian sampai pembawaan nya menyiratkan demikian.
Rupanya dia hanya mengantar Oom itu ke gambir. Karena beberapa saat kemudian perempuan itu di tinggalkan. Dia masih duduk beberapa lama lagi disitu. Matanya liar. Mungkin mencari mangsa baru. Beberapa kali mata kami bertemu. Dia sempat tersenyum dan aku pun senyum.
Dia menegurku dan bertanya kemana tujuanku aku hanya tersenyum. Kuberanikan diriku menghampirinya. Kukatakan aku ga punya tujuan. Kukatakan blak blakan padanya aku ingin kerja, kerja apa saja. Dia tertegun dan memperhatikan diriku.
Kukatakan padanya kalau dia bisa kasih aku pekerjaan uang nya boleh untuknya asal aku di beri tempat tinggal dan makan. Dia tertawa. Aku bilang padanya kalau aku serius. Dan dia tanya aku mau kerja apa. Aku katakan kepadanya aku ga perduli kerja apa. Apa saja aku mau. Kukatakan sambil berbisik bahwa aku tidak keberatan kalau aku harus melayani laki laki.
Dia tertegun. Diperhatikan nya tubuhku lekat lekat. Lalu dia tertawa. Suasana pun cair. Kami berkenalan. Namanya Mba Eva, dia seorang petualang. Hidup dari uang laki laki yang menidurinya. Setiap hari ia berpetualang dari satu diskotik ke diskotik lain. Seorang Single Fighter.
Diajaknya aku ke kostnya. Sebuah kamar kost yang mewah. Dengan pendingin ruangan, televisi dan stereo set. Ah rupanya seorang pelacur dapat hidup enak di Jakarta ini pikirku begitu aku sampai di kostnya.
“Kamu bener mau ikut aku?” akupun mengiyakan. Sejak hari itu kami berduet mengarungi jakarta. Dari satu diskotik ke diskotik lain. Kuberikan tubuhku kepada siapa saja yang berani membayar. Aku benar benar terjerumus kedalam lembah pelacuran.

Cerita Panas I Ngentot Itu Sakit Tapi Nikmat

Cerita Panas I Ngentot Itu Sakit Tapi Nikmat

Cerita Panas I Ngentot Itu Sakit Tapi Nikmat.

Ngentot Itu Sakit Tapi Nikmat
Ngentot Itu Sakit Tapi Nikmat

BUGIL999 Cerita Panas I Ngentot Itu Sakit Tapi Nikmat - Sempat bedekuk kencang jika aku melihat adegan video sampai mulutku melongo dan itu pun aku tidak menyangka apa yang aku tonton itu adalah rekaman istrtiku dengan suami adik iparku mereka berdua sedang berhubungan intim sungguh aku tidak bias mempercainya, kenyataannya istriku telah mengkhianati.

Erina, adik iparku berdiri di sebelahku mengamati reaksiku akan rekaman video tersebut. Tampak jelas dia terluka dan marah. Dia menemukan rekaman video ini dalam laci yang tersembuni di meja kerja suaminya hanya beberapa jam yang lalu.

Adegan di TV terus berjalan, aku berjalan menuju pantr di ruang sebelah dan menuangkan minuman ke dalam dua buah gelas. Erina menerimanya tanpa sepatah katapun. Kami berdua meneruskan melihat rekaman video tersebut dalam diam.

Tampak jelas betapa usaha Bob dalam mengolah bentuk tubuhnya, tapi aku merasa senang karena betapapun hasil latihannya telah membuat otot tubuhnya menjadi besar dan kekar tapi itu tak membuat batang penisnya jadi lebih besar.

Setidaknya aku masih lebih hebat dibagian itu. Tentu saja, Vita terlihat menikmati apa yang didapatkan dari Bob terkecuali terhadap ukuran kejantanannya, aku cukup mengenal Vita akan hal ini.

Isteriku mempunyai bentuk tubuh yang atletis. Dia rutin pergi ke gym dan selalu berusaha mengajakku ke tempat itu juga, tapi aku tak pernah punya ketertarikan dengan hal-hal semacam itu. Saat melihat adegan video tersebut, aku membayangkan apa mungkin hal tersebut akan mambawa perbedaanaE|

Erina melangkah pergi untuk mengambil minuman, kupandangi dia, Erina berumur 10 tahun lebih muda dari isteriku dan memiliki bentuk tubuh yang lebih montok dibandingkan kakaknya. Payudaranya juga lebih besar. Aku melihat perkembangan kedewasaan tubuhnya hingga menjadi seorang wanita muda yang cantik dalam beberapa tahun belakangan.

Dia dan Bob menikah dua tahun yang lalu. Vita dan aku menikah jauh sebelumnya dan sekarang sudah memiliki 3 orang anak. Kami akan segera merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke duapuluh.

“Kamu tahu sudah berapa lama ini terjadi?” tanyaku begitu video tersebut berakhir. Vita menggelengkan kepala.

“Mungkin sudah setahun lebih!” sambungnya ketus. Aku gelengkan kepala.

“Tidak, ini terjadi baru-baru ini. Kelakuan Vita berubah aneh sejak sekitar bulan lalu dan sekarang aku baru mengerti sebabnya,” jawabku.

BUGIL999 Cerita Panas I Ngentot Itu Sakit Tapi Nikmat

“Kakak kandungku sendiri!” kata Erina dengan geram. Aku mengangkat bahu. Aku benar-benar tak bisa berkata apapun untuk membuat kenyataan ini menjadi lebih baik.

“Apa yang akan kita lakukan?” tanyanya, tampak jelas nada kemarahan dalam suaranya.

“Aku belum tahu,” ku hela nafas. Aku masih sangat terguncang untuk dapat berpikir jernih.

“Abang belum tahu?” tanyanya tak percaya. Aku hanya mengangkat bahu kembali.

Baca JUga Cerita Sex Lain nya di CeritasexTerbaru.Net

“Kakakmu dan anak-anak sedang berakhir pekan di rumah pantai dan kakek nenek mereka juga ikut di sana. Aku rasa aku butuh waktu 24 jam untuk membuat keputusan drastis.”

“Well, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan!” potong Erina. Kupegang kedua bahunya dengan tanganku untuk meredakannya.

“Bukankah Bob sedang diluar kota sekarang ini?”

Iklan Sponsor :



“Ya,” jawabnya, tapi segera menambahkan dengan nada marah sebelum aku mampu melanjutkan,

“Mungkin sekarang ini dia sedang meniduri wanit lain lagi!”

“Aku rasa tidak,” jawabku sambil menggelengkan kepala.

“Apa?”

Iklan Sponsor :



“Dengar, aku cukup mengenal Bob dengan baik dan dia bukan tipe lelaki yang suka main perempuan,” kataku, meskipun sadar betapa menggelikannya penjelasanku ini.

“Kamu pasti bercanda,” tukas Erina. Aku hanya mengangkat bahu.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tak percaya kalau Vita dan Bob sengaja melakukan ini.”

“Itu kan sudah terlihat jelas di video itu!” teriak Erina.

“Apa ada kelakuan Bob yang aneh akhir-akhir ini? Aku tahu kalau sekarang ini Vita sedang mengalami puber kedua. Dia baru saja memasuki usianya yang ke tiga puluh sembilan dan perasaan akan berumur empat puluh di tahun depan sangat membuatnya resah.”

Kunjungi JUga CeritaSexHot.Org

“Itu bukan alasan!”

“Aku tidak bilang ini suatu alas an, tapi aku rasa itu bukan bagian dari penyebabnya,” jawabku. Erina menatapku dan menggelengkan kepala, tapi kemudian dia menarik nafas dan kelihatan agak sedikit mereda emosinya.

“Sudah satu tahun kami mencoba untuk mendapatkan seorang bayi, tapi belum juga beruntung. Aku tahu itu sangat mengganggu Bob,” jelasnya sambil menggosok kedua lengannya, tapi kemudian ketenangannya sirna dan matanya berkilat marah, “Itu juga sangat menggangguku, tapi aku tidak lari dan tidur dengan salah satu saudaranya!”

“Kamu benar,” jawabku, coba menenangkannya.

“Tapi aku masih merasa kalau kita butuh waktu beberapa hari untuk berfikir sebelum membuat keputusan besar.”

“Baiklah! Mungkin abang benar, tapi aku merasa itu tak akan membantu,” tukasnya, Rasa sakit dan marahnya terlalu besar untuk ditahannya.

“Besok malam kamu kembali saja kemari dan kita bicarakan lagi,” tawarku. “Sebelum itu kita berdua punya waktu untuk menenangkan diri.”

BUGIL999 Cerita Panas I Ngentot Itu Sakit Tapi Nikmat

Erina terlihat tidak puas, tapi dia mengangguk setuju. Dia mengeluarkan video tersebut dari dalam player dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Aku berharap dia tidak melakukan suatu tindakan yang bodoh sampai dia merasa tenang.

Kuputuskan untuk mandi, aku merasa kotor. Aku pergi ke kamar mandi, menyetel suhu air panas dan melihat pantulan bayanganku di dalam cermin.

Kamar mandi ini mulai terisi uap panas saat kutatap mataku. Ini akan jadi sebuah malam yang panjang dan aku merasa ragu akankah berangkat kerja besok pagi.

Erina dating ke rumahku malam berikutnya. Dia terlihat lebih kurang tidur dibandingkan aku, tapi setidaknya dia terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin.

“Jadi, apa keputusan abang?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. Aku mengangkat bahu.

“Apa ini tidak membuat abang marah?” tanyanya gusar.

Iklan Sponsor :



“Tentu saja ini membuatku marah, tapi aku tetap tak bisa merubah apa yang sudah terlanjur terjadi.”

Kenyataannya adalah aku lebih merasa sakit karena dikhianati dari pada kelakuan mereka.

“Astaga, aku benar-benar heran dengan abang? Aku akan minta cerai pada Bob! Abang juga mestinya menceraikan Vita!” kata Erina.

Aku gelengkan kepala, aku sudah punya keputusan sendiri.

“Itu tak akan terjadi. Kakakmu Vita dan aku punya tiga orang anak. Kami sudah berumah tangga hamper dua puluh tahun,” kutarik nafas, lalu melanjutkan, “Aku sangat mencintai kakakmu, dan perbuatannya dengan Bob tak akan mampu menghapus cinta itu begitu saja. Aku merasa sakit dan aku akan mencari tahu kenapa dia merasa harus mengkhianatiku, tapi aku tak akan menceraikan dia.” Erina menatapku tajam.

Kunjungi JUga CeritaSexTerbaru.ORG

“Abang akan memaafkannya,” tanyanya tak percaya. Aku mengangguk. Erina menggelengkan kepalanya, air matanya mulai keluar. Aku merengkuhnya ke dalam pelukanku dan dia mulai terisak. Ini berlangsung untuk beberapa saat lamanya hingga akhirnya dia dapat mengendalikan diri.

“Aku rasa aku tak akan bisa memaafkan Bob,” akhirnya dia berkata.

“Erina, apa kamu benar-benar ingin berpisah dengan Bob?” tanyaku. Sejenak dia ragu sebelum akhirnya menggelengkan kepala.

“Tapi aku tak bisa membiarkan begitu saja perbuatannya,” jawabnya lirih.

“Ayo kita ambil minum dulu,” tawarku. Dia mengangguk setuju.

Gelas yang pertama terasa hanya untuk membasahi tenggorokan saja. Gelas yang ke dua baru terasa pengaruhnya. Aku bilang ingin pergi ke kamar mandi sebentar saat Erina menuangk minuman pada gelas ketiganya.

Ketika aku keluar dari kamar mandi aku mendapati dia melihat rekaman video tersebut lagi. Aku menghela nafas, menghampirinya untuk mematikan TV.

“Kamu tahu kan, ini tak akan membantu,” kataku. Di menghela nafas. Kami meminum gelas ketiga dalam diam. Kali ini giliran Erina yang pergi ke kamar mandi saat aku menuang gelas yang keempat. Aku masih belum merasa mabuk, tapi rasa sakit di hati sedikit terasa hilang.

Erina keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arahku. Segera saja aku menyadari ada sesuatu yang berubah. Pertama, Erina terlihat sudah mengambil sebuah keputusan.

Yang kedua, tak mungkin rasanya kalau tak melihat kalau beberapa kancing bajunya yang atas terbuka dan dia tak lagi memakai bra. Aku dapat melihat jelas putting payudaranya dari balik blouse-nya.

“Erina, apa yang kamu lakukan?” tanyaku bingung.

“Aku akan melakukan sesuatu yang mungkin bisa mempertahankan pernikahanku setelah pengkhianatan Bob. Aku akan meniduri abang,” jawabnya.

Aku baru saja akan memprotesnya, tapi dia sudah langsung melumat bibirku.

Disamping itu, kalau mau jujur, meskipun aku memutuskan untuk memaafkan Vita, aku juga sama terlukanya dengan Erina. Meniduri Erina, benar atau salah, mungkin saja akan menolong. Aku merasa sangsi kalau ini akan bisa menyakiti mereka.

Dalam sekejap saja kami sudah tak berpakaian lagi dan aku terkejut melihat buah dada Erina bahkan lebih besar dari yang pernah kubayangkan.

Ukuran payudara Vita breasts sekitar B cup. Tapi menurutku putingnya yang mesar mencuat itu terlihat seksi pada ukuran payudaranya.

BUGIL999 Cerita Panas I Ngentot Itu Sakit Tapi Nikmat

Payudara Erina yang jauh lebih besar dibandingkan isteriku tampak sangat menggiurkan. Mungkin ukurannya C cup, tapi sangat pasti kalau ini adalah ukuran full C cup.

Putingnya tidak sepanjang punya kakaknya, tapi lebih gemuk. Dia tersenyum memergoki aku yang terpana melihat dadanya.Cerpen Sex

“Ini milikmu sepenuhnya,” kata Erina sambil menyangga kedua buah dadanya dengan kedua tangannya sekaligus meremasnya menggoda.

Kuhabiskan gelas keempatku dan segera membenamkan wajahku ke dalam dua bongkahan daging kenyal didepanku. Tangan Erina bergerak ke bawah untuk meraih batang penisku.

“Wah, punya abang besar sekali!” katanya, gairahnya terdengar besar dalam nada suaranya. Aku bergerak turun menelusuri lekuk tubuhnya, melewati perutnya dan mulai menyapukan lidahku pada bibir vaginanya.

Dia segera bersandar pada dinding di dekatnya dan memegangi kepalaku dengan kedua tangannya sambil mendesah. Segera saja tubuh Erina mulai tergetar ketika aku konsentrasi pada kelentitnya. Langsung saja dia meraih orgasme pertamanya dan aku harus menyangga tubuhnya sebelum dia jatuh. Lalu kugendong dia menuju ke kamar tidur.

Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, Erina menjulurkan kedua lengannya ke depan menmintaku untuk segera naik. Aku merangkak menaiki tubuhnya dan memberinya sebuah ciuman yang dalam. Nafasnya tercekat saat ujung kepala penisku menemukan jalan masuk ke dalam vaginanya.
“Kamu yakin mau melakukan ini?” tanyaku. Dia mengangguk.

“Kakakku, isteri abang, meniduri suamiku. Aku rasa baru adil kalau aku menyetubuhi abang di atas ranjangnya sendiri. Ini cara untuk membalas kelakuan Bob dan Vita diwaktu yang sama,” nada amarah terdengar dalam jawabannya, tapi dia kemudian tersenyum dan menambahkan,

“Lagipula, aku tak akan melepaskan begitu saja setelah melihat ukuran penis abang ini.” Kemudian segera saja lenguhan nikmat terlepas dari bibirnya saat dia menggunakan kakinya untuk menarik tubuhku ke arahnya.

“Aku merasa sangat penuh!”

Batang penisku hanya baru masuk 3/4nya saja ke dalamnya. Kudorongkan lagi, tapi dia merintih kesakitan. Aku coba hentikan, tapi dia tidak mengijinkanku.

Nafasnya tersengal terdengar antara menahan deraan nikmat atau sakit, dan dia terus mengguna kan pahanya untuk menarikku semakin erat. Bahkan tangannya mencengkeram pantatku dan menariknya dengan keras hingga seluruh batang penisku terkubur dalam lubang anusnya.

“Oh mami!” teriakan lepas keluar dari bibirnya saat aku berhasil membenamkan batang penisku seluruhnya. Aku diamkan tanpa bergerak agar dia terbiasa dengan ukuranku.

“Ayo bang! Setubuhi aku!” akhirnya dia berkata dan memang itu yang segera akan aku lakukan. Pada awalnya secara perlahan kukeluar masukkan, tapi atas desakan Erina segera saja aku menyentaknya dengan keras dan cepat.

Langsung saja orgasme kedua diraihnya dan tanpa henti. Aku piker dia akan pingsan saat teriakan nikmatnya terdengar keras sekali.

“Erina, aku hamper keluar!” teriakku. Dia mendorong tubuhku berganti posisi hingga dia berada diatas dan mulai menunggangi batang penisku.

“Lakukan, bang! Isi rahimku dengan benih abang!” ucapnya semakin membakar gairahku.
“Tapi, kita tidak pakai pelindung!” kataku ragu.

Tapi keraguanku malah semakin membuat pantulan tubuhnya semakin keras saja dan tak ayal aku langsung keluar jauh di dalam rahimnya. Kusemburkan begitu spermaku ke dalam vaginanya hingga meleleh keluar pada pahanya seiring pompaan naik turun tubuhnya di atasku.

Kami berdua rebah tak bergerak dengan tubuhnya yang masih menindihku untuk beberapa waktu. Akhirnya dia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan diam.

“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku khawatir tapi dia malah tertawa.

“Aku merasa sangat ehmmaE|! Saat ini, aku tidak tahu apakah akan meninggalkan Bob dan tak akan bicara dengan Vita lagi ataukah aku mestinya berterima kasih pada mereka. Abang sangat menakjubkan,” katanya. Aku tertawa dan menurunkan tubuhnya dari atasku.

“Aya mandi, aku sangat ingin bermain lagi dengan dada montokmu ini,” Kataku sambil meremas buah dadanya lalu menggamit tangannya. Kami bawa serta gelas minuman yang kosong, mengisinya lagi untuk yang terakhir kalinya sebelum bergandengan tangan masuk ke kamar.

Lansung saja kami habiskan gelas terakhir kami setelah mengatur suhu shower. Tawa riang tak hentinya keluar dari bibir kami saat air hangat mulai turun membasahi kedua tubuh berkeringat kami.

Kusabuni dada montoknya dan menghabiskan setidaknya sekitar sepuluh menit meremasinya. Disaat yang bersamaan dia juga menyabuni batang penisku.

Begitu penisku kembali mengeras, aku bergerak ke belakang tubuhnya, masih tetap meremasi buah dadanya. Aku mulai menciumi lehernya dan batang penisku kugesekkan pada celah bongkahan pantatnya. Penisku masih berlumuran sabun sehingga dengan mudah melesak masuk.

Saat bibir kami saling melumat dalam ciuman yang dalam, kepala penisku terdorong masuk ke dalam lubang anusnya.

Erina merenggangkan pahanya dan penisku melesak masuk dengan sendirinya seakan punya maksud sendiri, Aku terkesiap dan berusaha menariknya keluar.

“Sorry! Ini masuk begitu saja…” aku berusaha menjelaskan, tapi Erina malah menyeriangai lebar dan mendorong pantatnya ke belakang membuat kepala penisku semakin menyelam ke dalam lubang anusnya. Aku mengerang keenakan.

“Jangan bilang kalau kak Vita tidak pernah mengijinkan abang melakukan anal seks?” tanyanya menggoda.

“Tidak, tidak pernah,” jawabku.

“Baiklah kalau begitu, kalau abang mau abang boleh merasa bebas menyetubuhi anusku semau abang!” katanya manantang dan bagai api yang disiram minyak, langsung saja aku lesakkan batang penisku jauh ke dalam lubang anusnya.

Kedua tangannya terjulur kedepan pada dindning untuk menahan tubuhnya yang terguncang dengan keras oleh sodokanku. Buah dadanya yang montok terayun menggoda, membuatku dengan segera bergerak meremas keduanya. Tapi tanganku langsung beralih untuk mencengkeram pinggulnya untuk menjaga keseimbangan kedua tubuh kami karena ayunanku.

“Ya! Terus bang! Dorong penis abang ke dalam anusku! Makin dalam bang!” teriak Erina dalam kenikmatan. Salah satu tangannya masih menahan tubuhnya pada dinding sedangkan yang satunya lagi mulai bergerak kea rah selangkangannya.

“Yes!” teriaknya saat aku semakin keras mengayunkan batang penisku semakin ke dalam. Dapat kurasakan otot pantatnya yang mulai mengencang saat dia menggesek kelentitnya sendiri.

Tak mampu lagi kutahan, kulesakkan seluruh batang penisku terkubur seutuhnya dalam cengkeraman lubang anusnya dan kembali, sekali lagi aku keluar dengan hebatnya.

Sentakanku yang terakhir membuat kaki Erina benar benar terangkat dari lantai kamar mandi karena kerasnya. Dan hal tersebut membuat Erina bergabung bersamaku dalam ledakan orgasmu sejenak kemudian.Cerpen Sex

Kami berjalan berpelukan dengan sempoyongan keluar dari kamar mandi menuju ke kamar tidur kembali. Aroma seks tercium sangat pekat di dalam kamar dan kami kesulitan untuk menemukan area sprei yang kering di tempat tidur.

We stumbled out of the shower and back to the bedroom. The room smelled like sex and we had problems finding a dry spot on the bed. I was barely settled before Erina crawled between my legs and started blowing me.

“Kamu benar-benar liar!” kataku.

“Ternyata balas dendam itu rasanya jauh lebih manis dari yang kudugatimpalnya dengan tersenyum puas. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Dia benar benar wanita muda yang penuh amarah, tapiaE| apapun itu adik iparku ini benar benar sangat menggairahkan!

Erina merapatkan kedua daging payudaranya yang kenyal menjepit batang penisku dan mengocoknya begitu batangku mengeras lagi. Dia masih asik melakukannya ketika tiba-tiba saja Vita berjalan masuk ke dalam kamar tidur…!!!

“Erina! Teganya kamu?” teriak Vita terdengar hamper menangis, tapi Erina Cuma tersenyum sinis.
“Teganya aku? Kakak pasti bercanda! Coba kakak periksa rekaman video di bawah. Itu rekaman perselingkuhan Bob dengan kak Vita,” balas Erina said lalu kemudian dengan mata menatap kea rah kakaknya, dia memasukkan batang penisku hingga ke batangnya.

“Anak-anak mana?” tanyaku merasa tak nyaman. Aku coba untuk bergerak, tapi Erina tak membiarkanku. Dia ingin agar Vita melihat aksi kami berdua.

“Kutitipkan di rumah mami. Aku mau memberimu kejutan aE~a night out aloneaE?,” jelasnya, nampak jelas rasa kecewa dan terkejutnya.

“Nah, aku rasa yang terkejut sekarang adalah kakak. Apa kakak benar-benar berharap kalau rekaman itu tak akan diketahui oleh siapapun?” Tanya Erina. Vita menggelengkan kepala.

“Kakak keliru,” kata Erina, lalu menambahkan dengan nada sinis,

“Nah, sekarang impas kan?” tangis Vita benar-benar pecah sekarang dan dia berlari meninggalkan kamar. Bukannya merasa puas telah membalas dendam, tapi aku malah merasa sangat tidak enak. Kudorong tubuh Erina menjauh dan pergi menyusul Vita.

Kutemukan dia di ruang keluarga, sedang menyaksikan rekaman videonya dengan Bob. Dia menoleh dan memandangku dengan tatapan yang berlinang air mata.

BUGIL999 Cerita Panas I Ngentot Itu Sakit Tapi Nikmat

“Aku sungguh-sungguh minta maaf!” ucapnya diantara isak tangisnya.

“Itu terjadi begitu saja bulan lalu. Bob tengah frustrasi karena Erina tak juga hamil. Kami minum-minum dan aku tak ingat pasti apa yang terjadi kemudian, yang kuingat saat aku terbangun, kita tidur berdua di ranjangnya. Apakah kamu mau memaafkanku?” tanyanya.

Aku hendak mulai menjawab, tapi Erina sudah berada di ruangan ini.

“Abang percaya semua omong kosong ini? Itu mungkin benar kejadian pertama kalinya, tapi bagaimana dengan yang berikutnya? Kak Vita terlihat jelas sangat menikmatinya dalam video itu,” potong Erina dengan marah. Wajah Vita berubah merah oleh rasa malu.

“Kami melakukannya cuma dua kali saja,” bela Vita lirih, meskipun dia sadar itu tak banyak membantunya.

“Kejadian yang kedua terjadi saat Bob menelphone-ku untuk dating dan bicara. Aku juga terkejut saat mendapati ada sebuah kamera yang dalam keadaan siap rekam. Lalu dia memperlihatkan padaku rekamannya dengan Erina yang sedang bercumbu. Kami sepakat untuk menghentikan affair ini, tapi Bob ingin membuatsebuah video sebagai kenang-kenangan.”

“Dan kakak tak mampu menolaknya, kan?” potong Erina dengan tajam.

“Aku mau menolaknya!” jawab Vita, tapi kemudian meneruskan dengan suara pelan, “Tapi video kalian berdua benar-benar membuatku jadi terangsang. Melihatmu bercumbu dengan Bob sangat membuatku terangsang.”

“Kakak jadi terangsang karena melihatku?” Tanya Erina tak percaya.

Vita tak berani menatap kami berdua, tapi dia hanya mengangguk. Aku gelengkan kepala. Aku benar-benar kaget dengan apa yang dikatakan Vita barusan.

“Erina, Vita dan aku menikah di usia muda. Aku tidak heran jika kakakmu membayangkan apa yang hilang dari masa mudanya setelah kami menikah dulu. Aku juga merasakan hal itu.”

“Lalu apa abang berselingkuh di belakang kakak?” Tanya Erina asked. Kugelengkan kepala.
“Tidak sampai hari ini,” jawabku. Vita mulai merasa tak nyaman.

“Aku benar-benar minta maaf! Aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu,” kata Vita. Aku tersenyum mendapati situasi ini. Ketakutan terbesarku adalah jika Vita sudah tidak mencintaiku lagi. Sekarang aku tahu itu tidak benar.

“Aku tak akan meninggalkan kamu. Andai saja kamu ceritakan padaku tentang semua ini sebelum kamu membuat keputusan, mungkin kita bisa lakukan itu bersama.”

“Bersama?” tanyanya. Dia terlihat jelas terkejut.

“Ya. Vita, aku punya sebuah fantasi yang ikin kulakukan. Aku tak pernah menceritakannya padamu karena kupikir kamu sangat konservative tentang seks dan kupikir kamu akan marah jika kuajak membicarakannya. Aku tak ingin kehilangan kamu.”

“Sungguhkah?” tanyanya, ketakutanna perlahan berubah menjadi sebuah harapan. Kurengkuh dia ke dalam pelukanku dan memberinya sebuah ciuman yang sangat dalam sebagai jawabannya.

“Jadi, abang mengijinkan pria lain menikmati tubuh isteri abang?” Tanya Erina tak percaya Aku mengangkat bahu dan tersenyum.

“Aku tak masalah jika Vita bercinta dengan orang lain, Cuma syaratnya aku harus ada di sana dan dia pulang ke rumah kembali bersamaku.”

“Menakjubkan,” kata Erina, tak tahu harus berkata apalagi.

“Erina, meskipun ini tak membantu, Bob mengatakan padaku kalau hanya dengankulah satu-satunya wanita yang pernah berselingkuh dengannya. Aku percaya padanya. Bob benar-benar mencintaimu,” kata Vita, masih memelukku. Erina masih tetap menggelengkan kepala.

Kutarik kembali Vita dalam sebuah ciuman. Aku masih tetap telanjang, sedangkan Vita masih berpakaian lengkap. Aku mulai melucuti pakaiannya.

Dan dia membantu mempercepatnya.

“Hey, bagaimana dengan aku?” Tanya Erina. Vita memandangku seakan meminta ijin. Aku mengangguk, masih meraba-raba kemana ini akan berakhir. Isteriku menatap adiknya dan menyeringai lebar.

“Erina, kamu sangat boleh bergabung dengan kami,” undangnya. “Sudah kukatakan, Aku sangat suka melihatmu bercinta dengan Bob.

Kurasa melihatmu melakukannya dengan suamiku pasti akan lebih dahsyat lagi!” Aku sama terkejutnya dengan Erina, tapi aku sudah terlalu terangsang oleh wanita yang kunikahi hamper dua puluh tahun ini.

Vita dan aku tak menunggu jawaban Erina lagi. Kupanggul Vita menuju ke kamar tidur kami dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tengkurap.

Dia protes soal aroma dan kenyataan kalau sepreinya telah habis dipakai, tapi protesnya tersebut langsung terhenti begitu kulesakkan batang penisku ke dalam lubang vaginanya. Kupegangi pinggulnya saat aku mulai bergerak keluar masuk.

“Ya, setubuhi aku sayang!” teriaknya. Vita tidak pernah berkata mesum saat berhubungan seks sebelumnya. Birahiku benar-benar terbakar oleh perubahan isteriku ini. Kami berdua benar-benar terhanyut dengan irama persetubuhan ini hingga aku dikejutkan oleh sebuah tangan yang memegang buah zakarku.Cerpen Sex

“Jadi, akhirnya kamu putuskan untuk bergabung dengan kami,” kataku pada Erina. Dia mengangkat bahunya, tersenyum nakal dan kemudian menciumku.

“Aku tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menikmati batang penis abang lagi,” katanya begitu lumatan bibirnya denganku berakhir. Kemudia dia menampar pantat Vita dengan keras. Vita teriak terkejut.

“Disamping itu, aku masih belum memberikan hukuman pada wanita jalang yang sudah menyetubuhi suamiku ini,” katanya sebelum memberi sebuah tamparan lagi.

“Hey! Hentikan,” cegahku. Aku mencintai Vita dan tidak ingin melihat dia disakiti.

“Tidak apa-apa! Aku memang pantas mendapatkannya,” kata Vita, mengejutkanku, tapi kurasa Erina sudah mengira akan hal ini.

“Nah kakakku yang jalang, kakak suka dengan kekerasan ya,” kata Erina dengan yakin sambil memilin putting kakaknya dengan kasar.

Vita berteriak antara sakit dan nikmat. Baru saja aku mau menghentikan semua ini, tapi Vita malah mulai meledak orgasmenya. Ini akan menjadi sebuah eksplorasi yang menarik dilain waktu.

Erina menarikku menjauh dan menaiki batang penisku. Tak perlu menunggu waktu untuk penyesuaian yang lama lagi seperti saat pertama kali, dia kemudian mulai bergerak naik turun di atasku sekali lagi. Aku sudah dekat dengan orgasmeku saat akhirnya Vita pulih kondisinya setelah ledakan orgasmenya. Dia melumat bibirku dengan liar sebelum tangannya bergerak meremas pangkal batang penisku.

“Hey, hentikan, kakak merusak iramaku!” Erina komplain. Vita tersenyum, melepaskan cengkeramannya dan menarik Erina dalam sebuah ciuman. Ciuman keduanya sangat lama dan juga basah, tapi saat akhirnya selesai Erina kembali komplain.

“Wanita jalang!” teriaknya, yang sebenarnya hanya terkejut oleh aksi Vita barusan. Isteriku hanya tersenyum.

“Sudah kubilang kan, kalau melihatmu bisa membuatku sangat terangsang. Apa yang kamu harapkan saat memutuskan untuk bergabung dengan kami?” jawab Vita, dan kemudian tangannya bergerak ke bawah untuk memainkan kelentit Erina. Segera saja nafas Erina mulai tersengal.

BUGIL999 Cerita Panas I Ngentot Itu Sakit Tapi Nikmat

“Aku tidak tertarik pada wanita! Singkirkan tangan kakak!” perintahnya, tapi Erina tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan Vita.

“Aku juga belum pernah melakukannya dengan seorang wanita sebelumnya. Aku rasa kamu juga. Bagaimana kamu tahu kalau kamu tak suka?” Tanya Vita.

“Tapi aku kan adikmu!” jawab Erina. Vita tak menghiraukannya.

“Aku yakin kalau mulutmu pasti akan lebih bermanfaat daripada hanya bicara tak karuan begitu,” jawab Vita, lalu kemudian kembali melumat bibir adiknya lagi.

“Wow! Vita, ini sangat hot! Jika saja aku tahu lebih awal kalau kamu juga mau melakukannya denga wanita juga,” kataku dengan seringai lebar. Vita hanay mengangkat bahu.

“Siapa kira? Aku juga tak pernah membayangkan sebelumnya sampai aku lihat videonya Erina dengan Bob,” jawabnya sebelum kemudian membungkuk kedepan untuk menghisap salah satu putting payudara Erina. Mengerang keras Erina mulai orgasme.

Aku mencoba untuk bertahan, tapi segera saja aku seburkan spermaku ke dalam vagina Erina juga. Erina membuat kami berdua terkejut saat dia menjambak rambut kakaknya agar mendekat padanya dan melumat bibirnya dengan liar ditengah ledakan orgasme yang melandanya.

Vita meraih batang penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya begitu orgasme yang mendera kami berdua mereda.

“Iih, menjijikkan! Penis abang kan penuh dengan cairanku,” kata Erina dengan wajah menyeringai. Vita hanya tersenyum lalu mendorong tubuh adiknya hingga terlentang.

Dia bergerak menaiki tubuh Erina dan duduk di atas dada montoknya. Membuat vaginanya berada sangat dekat ke mulut Erina. Erina meronta beberapa saat, tapi Vita lebih kuat dan lagipula tubuhnya berada di atas menindih Erina.

“Sekarang giliranku untuk orgasme dank arena kamu sudah memakai penis suamiku untuk orgasme, kamu harus menggantikan tugasnya. Jilat vaginaku Erina!” perintah Vita. Aku hanya menyaksikan dengan terpesona.

Aku tengah menyaksikan bagian dari diri Vita yang tak pernah kusangka dimilikinya. Erina mencoba memprotes, tapi Vita sama sekali tak mengacuhkan. Disorongkan vaginanya kea rah mulut adiknya dan mendesah keras beberapa saat kemudian ketika lidah Erina menelusup ke dalam lubang vaginanya.

“Ya, begitu! Tepat di situ!” ceracau Vita. Mereka berdua seakan asyik masyuk dalam dunianya sendiri dalam beberapa menit ke depan sebelum pada akhirnya Erina mendorong tubuh Vita dari atasnya.

“Hey!” protes Vita, tapi Erina cuma tertawa. Dia kemudian mengatur untuk melakukan posisi enam-sembilan dengan isteriku. Kuamati lidah Erina langsung melata keluar masuk ke dalam vagina kakaknya. Vita ragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya lidahnya juga memberi aksi yang sama terhadap vagina Erina.

Terlihat jelas bahwa kedua wanita ini sangat menikmati dan larut terhadap apa yang tengah mereka perbuat. Sudah cukup lama mereka saling memuaskan birahi satu sama lainnya dan aku yakin kalau keduanya sudah mendapatkan paling tidak sebuah orgasme.

Batang penisku akhirnya sekali lagi mengeras sepenuhnya dan aku tengah bingung untuk memutuskan apa yang akan kulakukan. Erina melihat kebingunganku dan mengedip kepadaku sambil sebuah jarinya menyelip masuk ke dalam lubang anus Vita. Vita mengerang.

Erina terus memainkan jemarinya di dalam lubang anus Vita sambil tetap mengoral vaginanya. Sejenak kemudian Erina mengisyaratkan padaku untuk mendekat.

Dicengkeramnya batang penisku dan menempatkan kepala penisku tepat di lubang anus Vita. Kudoeng sedikit hingga kepalanya masuk sebelum Vita akhirnya menyadari apa yang tengah terjadi.

“Tunggu!” teriaknya, tapi Erina tetap berkonsentrasi pada kelentitnya dan itu membuat perhatian Vita kabur. Kumasukkan beberapa centi lagi.

“Hentikan, ini sakit!” erang Vita. Erina menampar pantat isteriku dengan keras.

“Tapi rasanya sangat nikmat, kan?” tanyanya pada isteriku. Vita hanya mengerang. Kumasukkan lagi lebih dalam.Cerpen Sex

“Ya!” Vita semakin mengerang keras.

“Jadi, diam dan nikmati saja!” perintah Erina menampar pantat Vita lagi. Erina merangkak ke bawah tubuh Vita dan mulai mempermainkan kelentitnya.

Aku terus mendorongkan penisku semakin ke dalam anus Vita. Rasanya sangat rapat dan aku tak yakin sepenuhnya apakah dia menikmati ini ataukah tidak.

“Apa kamu ingin aku berhenti?” tanyaku meyakinkan.

“Jangan! Masukkan seluruhnya. Sodomi aku!” teriak Vita. Dan jawaban itu membuatku melesakkan sisa penisku selurhnya tanpa ragu lagi. Dia langsung mulai orgasme. Kurasakan denyutannya seiring tiap sodokanku.

Kusodomi Vita dengan keras dan cepat, membuat buah zakarku menghantam dahi Erina. Segera saja aku orgasme beberapa menit kemudian. Vita dan aku rebah kecapaian sedangkan Erina meberi kami masing-masig sebuah ciuman yang penuh nafsu yang dalam. Tak disangsikan lagi kalau dia juga sangat membutuhkan sebuah pelapasan yang sangat mendesak.

Begitu kondisiku dan isteriku mulai pulih, tanpa menyia-nyiakan waktu lagi kami berdua langsung berkonsentrasi pada vagina Erina. Dengan bergantian lidah kami mengeksplorasi seluruh titik sensitifnya.

Dan itu membuat Erina merintih memintaku agar segera menyetubuhinya langsung.

Kuposisikan dia dalam dogy-style, Vita memposisikan dirinya diantara tubuhku dan Erina dan mencumbu anus adiknya dengan menggunakan lidah. Hal ini terlalu berlebihan untuk dapat ditahan Erina lebih lama lagi dan orgasme segera menggulungnya.

Denyutan liar dinding vagina Erina tak mampu kutahan, kulit penisku yang terasa sangat sensisit segera memberiku ledakan orgasme yang berikutnya. Isteriku terus saja mencumbui lubang anus adiknya saat aku semburkan kembali spermaku di dalam vagina adik iparku untuk kesekian kalinya.

Kami bertiga hanya mampu berbaring kelelahan dengan tubuh bersimbah keringat untuk sekian waktu. Saat akhirnya kami mampu bergerak, hanya dengan gerakan tubuh yang lemah dan pelan. Secara bregiliran kami mandi menyegarkan tubuh, berpakaian dan bertemu di meja makan. Vita menyiapkan sesuat untuk mengganjal perut kami semua yang kelaparan.

“Aku lapar,” Erina said.

“Aku juga,” timpalku.

“Aku rasa kita sudah membangkitkan selera makan kita,” Vita tersenyum. Hampir disepanjang acara makan kami diwarnai keheningan. Masing-masing tenggelam dalam alam pikirannya. Aku lihat Vita sedang menata mentalnya untuk membuka omongan. Akhirnya dia menatapku begitu acara makan kita selesai.

“Jadi, apakah kita semua baik-baik saja?” nada bicaranya terdengar nervous. Kami saling menatap satu sama lain dalam beberapa saat dan kemudia aku mengangguk. Senyuman Vita terkembang.

“Bagaimana dengan kamu?” Tanya Vita pada adiknya.

“Mmm, aku belum tahu,” jawab Erina dengan jujur, tapi kemudian dia tersenyum lebar dan bertanya,

“Yang kamu maksud itu tentang kamu dan Bob atau kenyataan bahwa baru saja aku sadar kalu aku seorang lesbian yang juga menikmati hubungan incest?”

“Kamu bukan lesbian,” jawabku sambil tersenyum.

“Dia benar,” Vita menambahkan. “Kamu seorang biseksual yang menikmati hubungan incest.” Erina tidak bias menahan diri. Dia tertawa terbahak. Vita dan aku ikut tertawa, tapi dengan cepat tawa kami berhenti.

“Erina, beri Bob kesempatan,” kata Vita dengan lebih serius. Erina menarik nafas.

“Akan kupikirkan.”

“Dan diskusikan dengannya soal belum juga hamilnya kamu. Kalian berdua mungkin harus membicarakan hal tersebut. Mungkin sekaranglah waktunya untuk datang ke dokter ahli.”

“Wow, sekali nasehat langsung komplit,” jawab Erina dengan tersenyum. Dia terlihat agak bimbang.

“Hei, kamu boleh menyewa suamiku sebagai gantinya kalau yang jadi masalahmu adalah Bob,” gurau Vita, mencoba untuk membuat adiknya tersenyum. Senyuman Erina semakin terkembang lebar saat tangannya bergerak mengelus perutnya.

“Masalah itu mungkin sudah terpecahkan kalau memang yang bermasalah aadalah Bob. Minggu ini adalah periode masa paling suburku dan suamimu sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik saat mengisiku dengan spermanya.”

Alis Vita’s, dan tentu saja alisku, terangkat karena terkejut. Kami saling mamandang dan kemudian menoleh ke arah Erina. Akhirnya kami bertiga hanya mengangkat bahu.

“Itu issue untuk besok saja,” jawab Vita.

“Kalau memang jadi,” Erina menambahkan.

“Beritahu kami kalau akhirnya kamu memutuskan untuk memaafkan Bob,” kataku, merubah topic pembicaraan. “Akan tiba waktunya bagi Bob dan aku untuk membicarakannya, tapi itu persoalan lain lagi. Dan jika semuanya berjalan baik dan antara kamu dan Bob ok, aku rasa aku ingin melihat Bob dan Vita melakukannya secara langsung. Aku yakin itu akan terlihat lebih hebat dari pada di dalam video.”

“Hanya selama aku diberi kesempatan dengan kamu lagi,” jawab Erina menimpali aE~tantanganku. Dia kemudian menoleh kea rah Vita dan dengan tersenyum menambahkan, “Tentu saja dengan kamu juga.”

“Aku bisa menggaransi kalau soal itu,” balas Vita.

Erina memberi sebuah pelukan pada kami berdua sebelum dia pergi. Vita dan aku saling menatap dalam kebisuan untuk beberapa saat.

“Nah, sekarang bagaimana?” Tanya Vita. Awalnya aku hanya mengangkat bahu, tapi kemudian kuhembuskan nafas. Aku sadar jika kami berdua membutuhkan sebuah aturan dasar dalam hal ini.

“Pertama, aku rasa kita harus saling setuju dan berjanji bahwa kita tidak akan saling bermain dengan orang lain tanpa persetujuan salah satu dari kita. Tak ada lagi affair,” jelasku dengan ringkas. Vita tampak sedikit malu dan mengangguk setuju.

“Kita harus ekstra hati-hati terhadap anak-anak. Aku tidak mau gaya hidup kita yang baru ini membawa sebuah dampak bagi mereka semua,” Vita menambahkan.

“Setuju.”

“Kamu puny ide yang lain lagi?” Tanya Vita. Aku menyeringai.

Baca Juga Cerita Sex Kak Risa

“Ya, masih ada sebuah hukuman yang menunggumu.”

“Hukuman?” Tanya Vita, matanya berbinar.

“Yeah, sekarang aku tahu kalau kamu suka sedikit kekerasan dan rasa sakit, aku rasa kita harus kembali lagi ke kamar. Lagipula anak anak tidak ada dan kita hanya berdua saja sekarang.”

“Apa yang kamu rencanakan?” Tanya Vita curiga. Aku hanya tersenyum lebar.

Kami habiskan beberapa jam berikutnya dengan saling memuaskan dan memanjakan satu sama lain. Tidak semua yang kami coba berjalan dengan baik, tapi saat itu tidak berjalan sesuai harapan, kami hanya tertawa dan kemudia mencoba sesuatu yang lainnya lagi.

Untuk pertama kalinya Vita dan aku saling berbagi seluruh fantasi seksual dalam kehidupan dua puluh tahun perkawinan kami. Kami sadar kalau tidak semua fantasi tersebut bisa diwujudkan dalam satu malam ini, tapi kami sudah melakukan sebuah awal yang bagus.

Mentari pagi hanya menunggu satu dan dua jam untuk terbit saat akhirnya kami merasa terlalu lelah untuk mencoba sesuatu yang lain lagi, tapi kami berdua belum merasa mengantuk juga. Sekali lagi kami mandi lagi dan melangkah menuju ke kamar tamu. Kamar ini memiliki pemandangan yang indah saat mentari terbit dan juga seprei yang bersih dan segar.

Kami berdua berbaring dan berbincang seakan sudah tak saling bicara selama bertahun-tahun. Aku bahkan tak begitu yakin apa yang sedang kami diskusikan, tapi pada akhirnya aku merasa lebih dekat dengan isteriku melebihi sebelumnya. Manteri terbit mengantarkan kami berdua lelap dalam mimpi indah dengan saling memeluk.

BUGIL999 Cerita Panas I Ngentot Itu Sakit Tapi Nikmat